Skip to content

Bebas Tagihan Paylater, Kemenangan Kecil Kelas Menengah

Tak punya tagihan Paylater kini terasa seperti kemenangan kecil bagi sebagian pekerja kelas menengah. Di tengah biaya hidup yang terus menekan dan gaji yang sulit bertambah, bisa melewati akhir bulan tanpa cicilan menjadi sumber ketenangan tersendiri.

Keluhan soal penghasilan yang terasa tak sebanding dengan kebutuhan belakangan ramai dibagikan pekerja di Threads. Ongkos kerja, makan, dan tempat tinggal terus menyedot anggaran, sementara pendapatan bulanan mereka tidak banyak berubah. Dalam situasi seperti itu, ukuran hidup nyaman pun bergeser: bukan lagi soal sanggup mencicil rumah atau membeli mobil, melainkan mampu menjalani hari tanpa dikejar tagihan.

Cita, pekerja berusia 25 tahun di Semarang, memilih menabung untuk membiayai kegemarannya menonton konser. Ia mengaku pernah menghabiskan hampir Rp1 juta untuk tiket dan akomodasi saat menghadiri festival Cherrypop di Yogyakarta. Namun, alih-alih memakai Paylater, ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan menekan pengeluaran sehari-hari.

“Mending ngirit banget buat nabung tiket konser, daripada senang-senang sebentar tapi bulan depannya pusing mikirin tagihan.”

Pilihan itu lahir dari pengalaman yang pernah membuatnya kapok. Saat baru bekerja sebagai karyawan kontrak, gajinya terlambat cair beberapa minggu akibat masalah administrasi kantor. Karena harus bertahan hidup di perantauan, ia akhirnya mengaktifkan Paylater untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Awalnya untuk bertahan, lalu tagihan membesar

Pada awalnya, fasilitas itu memang terasa membantu ketika dompetnya kosong. Namun, setelah gaji diterima, Cita mulai menggunakan Paylater untuk membeli barang yang bukan kebutuhan mendesak. Ia menyebut kaus band dan produk perawatan kulit sebagai beberapa barang yang dibeli dengan pembayaran cicilan.

Tagihannya kemudian membengkak hingga sekitar Rp1 juta per bulan. Bagi Cita yang masih berstatus karyawan baru, jumlah itu cukup mengganggu pengelolaan uangnya. Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa kemudahan membayar belakangan dapat mengubah keputusan belanja: sesuatu yang semula terasa ringan bisa menjadi beban saat tagihan datang.

Kisah Cita bukan satu-satunya cerita yang muncul di linimasa. Sejumlah pekerja di Threads membagikan pengalaman memiliki tagihan Paylater yang bahkan mencapai dua kali gaji bulanan. Ada pula yang akhirnya meminjam lagi untuk menutup kewajiban sebelumnya, lalu kembali menghadapi kekurangan uang setelah gajian.

Pengalaman-pengalaman itu menunjukkan tekanan yang dirasakan sebagian pengguna, tetapi tidak serta-merta menjelaskan keadaan semua orang yang memakai layanan tersebut. Cita sendiri pernah menggunakannya ketika menghadapi keterlambatan gaji. Persoalan muncul ketika pemakaian berlanjut ke belanja yang tidak mendesak dan cicilan mulai menggerus ruang dalam anggaran bulanannya.

Tak menghakimi pengguna Paylater

Rio, pekerja swasta di Yogyakarta, memilih tidak menggunakan Paylater karena menyaksikan kesulitan yang dialami teman-temannya. Meski begitu, ia tidak menganggap pengguna layanan tersebut sebagai orang bodoh atau otomatis memiliki literasi keuangan yang rendah.

Menurut pengamatannya, teman-temannya bekerja dan memiliki penghasilan. Namun, kebutuhan hidup kerap terasa di luar jangkauan gaji, sementara kemudahan yang ditawarkan aplikasi dapat membuat belanja impulsif semakin mudah terjadi. Dalam kondisi itu, penggunaan Paylater tidak selalu berawal dari keinginan hidup berlebihan; sebagian orang merasa perlu memakainya untuk menutup kebutuhan.

“Mereka itu kerja, tapi sistemnya memang bikin orang gampang khilaf. Begitu gajian, uangnya habis cuma buat bayar tagihan bulan lalu. Terus bulan ini mau makan pakai apa? Ya terpaksa pakai paylater lagi. Gitu terus siklusnya.”

Rio melihat siklus tersebut membuat sebagian temannya stres ketika tanggal gajian tiba. Uang yang baru diterima segera terserap untuk membayar kewajiban bulan lalu, sementara kebutuhan bulan berjalan tetap harus dipenuhi. Ketika pilihan keuangan terbatas, pinjaman baru dapat terasa seperti jalan keluar, meski berisiko membawa beban ke periode berikutnya.

Karena itu, keputusan Rio untuk menjauhi layanan tersebut bukan alasan untuk menghakimi mereka yang menggunakannya. Ia merasa beruntung masih dapat tidur tenang tanpa notifikasi penagihan di akhir bulan, meski penghasilannya juga tidak besar.

Ketenangan finansial di tengah gaji pas-pasan

Bagi Cita, menabung untuk konser berarti menunda kesenangan sampai uangnya cukup. Bagi Rio, tidak memiliki tagihan memberi ruang bernapas di tengah penghasilan yang terbatas. Keduanya menggambarkan pilihan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu hal: keinginan agar kebutuhan hari ini tidak menjadi kecemasan pada bulan berikutnya.

Bebas Paylater tentu bukan ukuran tunggal keberhasilan finansial. Namun, bagi pekerja yang pendapatannya terasa tertinggal dari biaya hidup, tidak menambah utang bisa menjadi pencapaian yang nyata. Cerita mereka juga mengingatkan bahwa keputusan keuangan tak lepas dari kondisi penghasilan dan kebutuhan sehari-hari, bukan sekadar soal disiplin pribadi.

Selama gaji dan pengeluaran masih terasa sulit diseimbangkan, banyak pekerja akan terus mencari cara agar kebutuhan terpenuhi tanpa menumpuk kewajiban. Bagi sebagian orang, langkah kecil itu dimulai dengan menabung lebih lama dan menahan pembelian. Hasilnya mungkin tidak langsung mengubah keadaan, tetapi setidaknya membuat akhir bulan terasa sedikit lebih tenang.

Inforakyat