Gagal ginjal dapat berkembang setelah fungsi penyaringan darah menurun, sering kali secara perlahan tanpa gejala yang mudah dikenali. Diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol menjadi pemicu utama gangguan ginjal kronis. Penggunaan obat tanpa petunjuk dokter dan konsumsi zat tertentu secara berlebihan juga dapat memperberat kerja organ ini.
Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni, mengingatkan masyarakat agar memahami faktor risiko dan melakukan pencegahan sejak dini. Ginjal menyaring darah untuk membuang racun serta cairan berlebih. Bila kemampuannya terus menurun, pasien dengan gangguan berat dapat membutuhkan hemodialisis atau cuci darah.
Namun, gagal ginjal bukan selalu berarti pasien langsung harus menjalani terapi seumur hidup. Peluang pemulihan bergantung pada jenis gangguan dan penanganan yang diberikan. Karena itu, mengenali faktor risiko dan memeriksakan diri ketika ada keluhan menjadi langkah penting.
Penyebab gagal ginjal dan perbedaan akut-kronis
Gangguan ginjal terbagi menjadi kondisi akut dan kronis. Gangguan akut yang ditangani dengan cepat masih berpeluang pulih, sedangkan gangguan kronis umumnya berlangsung lama dan dapat membuat pasien bergantung pada hemodialisis.
Diabetes dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol merupakan pemicu penting gangguan ginjal kronis. Hipertensi kerap disebut sebagai silent killer karena bisa berlangsung tanpa keluhan yang jelas. Dalam jangka panjang, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah ginjal, mengurangi aliran darah, lalu mengganggu proses penyaringan.
Kerusakan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat jaringan ginjal mengalami kerusakan permanen dan racun menumpuk dalam tubuh. Riwayat hipertensi dalam keluarga juga patut menjadi perhatian, meski faktor keturunan dapat berperan secara tidak langsung melalui kecenderungan tekanan darah tinggi.
Obat-obatan dan makanan tertentu pun perlu dikonsumsi secara bijak. Saeroni mengingatkan bahwa zat nefrotoksik dapat merusak ginjal, terutama jika masuk ke tubuh secara berlebihan. Kebiasaan mengobati diri sendiri tanpa petunjuk resmi dari dokter juga berisiko memperberat fungsi ginjal.
Gejala yang perlu diwaspadai dan diperiksa
Hipertensi maupun kerusakan ginjal sering baru terasa ketika kondisinya sudah cukup parah. Keluhan yang dapat muncul antara lain sakit kepala, mudah lelah, jantung berdebar, kaki bengkak, sering buang air kecil pada malam hari, urine berbusa, mual, hingga muntah.
Urine berbusa bukan dengan sendirinya memastikan seseorang mengalami penyakit ginjal. Namun, bila kondisi itu berulang atau muncul bersama keluhan lain, pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui penyebabnya. Gejala saja tidak cukup untuk menilai fungsi ginjal, sehingga pemeriksaan tetap diperlukan.
Untuk mendeteksi gangguan lebih awal, Kementerian Kesehatan menyarankan pemeriksaan darah dan urine secara rutin, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi. Pemeriksaan fungsi ginjal dapat membantu menemukan masalah sebelum kerusakan berkembang lebih jauh. Tekanan darah juga perlu dipantau, sebab hipertensi dapat merusak ginjal tanpa tanda yang kentara.
Langkah menjaga kesehatan ginjal
Pengendalian tekanan darah dan penyakit penyerta merupakan bagian penting dari pencegahan. Langkah yang dianjurkan mencakup mengurangi konsumsi garam, memilih makanan sehat dan bergizi, berolahraga, serta menjaga berat badan ideal. Rekomendasi WHO yang dikutip dalam sumber menyarankan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari.
Bagi orang yang sudah mengonsumsi obat hipertensi, penggunaan obat perlu mengikuti anjuran dokter. Menghentikan atau mengubah pengobatan sendiri bukan pilihan yang aman. Menghindari rokok dan alkohol serta memeriksa tekanan darah secara berkala juga termasuk upaya yang disarankan untuk menjaga kesehatan.
Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membuka peluang hasil yang lebih baik. RSUD dr. Soedomo Trenggalek menyiagakan 31 mesin hemodialisis dan mencatat daftar tunggu 145 pasien. Di sisi lain, rumah sakit itu melaporkan 11 pasien berhasil lepas dari ketergantungan cuci darah setelah fungsi ginjal mereka membaik.
Angka tersebut menunjukkan pentingnya penanganan medis, bukan alasan untuk menunda pemeriksaan. Menjaga pola makan, mengendalikan diabetes dan hipertensi, serta berkonsultasi sebelum menggunakan obat dapat membantu menekan risiko. Jika memiliki faktor risiko atau mengalami keluhan, pemeriksaan sejak dini memberi kesempatan untuk mengetahui kondisi ginjal dan menentukan langkah perawatan yang sesuai.