Skip to content

5 Permainan untuk Melatih Otak Orang Dewasa

Teka-teki silang (TTS), mahjong, Go, catur, hingga permainan kognitif digital dapat menjadi cara menyenangkan untuk menantang pikiran. Sejumlah penelitian menunjukkan permainan tersebut berpotensi melatih kemampuan tertentu, seperti memori, penalaran, strategi, dan kecepatan memproses informasi. Namun, manfaatnya tidak sama untuk setiap permainan dan belum membuktikan bahwa bermain dapat mencegah demensia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan stimulasi kognitif dan kegiatan sosial sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko penurunan kognitif. Permainan bisa menjadi salah satu pilihan aktivitas yang merangsang pikiran, tetapi bukan pengganti pemeriksaan maupun saran medis.

Lima permainan yang menantang kemampuan kognitif

TTS mengajak pemain mengingat kosakata, memahami petunjuk, dan mencocokkan jawaban dengan huruf yang sudah tersedia. Aktivitas itu melibatkan ingatan sekaligus kemampuan berbahasa. TTS dapat dikerjakan melalui koran, buku, atau aplikasi, sehingga relatif mudah diakses.

Dalam sebuah uji klinis terhadap 107 orang dengan gangguan kognitif ringan, peserta berlatih TTS digital atau permainan kognitif berbasis web. Setelah dipantau selama 78 minggu, kelompok TTS memperoleh hasil lebih baik pada ukuran kognisi utama dibanding kelompok permainan digital. Temuan ini belum membuktikan bahwa TTS mencegah demensia: pesertanya memiliki gangguan kognitif ringan dan penelitian membandingkan dua jenis latihan, bukan latihan dengan tanpa latihan.

Mahjong mengandalkan kemampuan mengingat keping yang telah keluar, menyusun strategi, dan mengubah rencana ketika situasi permainan bergeser. Dalam uji acak terhadap 56 lansia dengan gangguan kognitif ringan, mereka yang bermain tiga kali seminggu selama 12 minggu menunjukkan perbaikan pada beberapa ukuran fungsi kognitif dan aktivitas sehari-hari.

Jumlah peserta penelitian itu terbatas, sehingga hasilnya tidak otomatis berlaku bagi semua orang atau kondisi kesehatan. Meski begitu, permainan ini memadukan latihan ingatan dan perencanaan dengan interaksi antarpemain. Mahjong bisa dimainkan menggunakan keping fisik maupun versi digital.

Go, gim digital, dan catur juga melatih strategi

Go, yang juga dikenal sebagai baduk, dimainkan dengan menempatkan batu hitam dan putih di papan untuk menguasai wilayah. Aturannya terlihat sederhana, tetapi pemain perlu membaca pola, memperkirakan langkah lawan, dan mengingat posisi batu. Bagi yang tidak memiliki papan atau teman bermain, Go juga tersedia dalam bentuk digital.

Sebuah uji acak melibatkan 72 orang dewasa lansia yang mengikuti pelajaran Go selama 12 minggu. Memori kerja visual membaik pada kelompok yang berlatih bersama maupun kelompok yang menggunakan tablet. Pada salah satu ukuran tes, perubahan pada kelompok yang bermain tatap muka lebih besar.

Permainan kognitif digital umumnya menyediakan latihan singkat untuk mengingat pola, memilah informasi, memecahkan soal, atau merespons rangsangan dengan cepat. Metaanalisis terhadap 16 studi dengan total 1.543 peserta berusia di atas 60 tahun menemukan perbaikan pada sejumlah kemampuan setelah latihan menggunakan permainan komersial. Perubahan terlihat pada kecepatan memproses informasi, memori kerja, fungsi eksekutif, dan memori verbal.

Namun, analisis tersebut tidak menemukan perbaikan bermakna pada perhatian atau kemampuan visuospasial. Hasil latihan cenderung berkaitan dengan kemampuan yang memang diasah, dan peningkatan skor dalam permainan belum tentu membuat kegiatan sehari-hari menjadi lebih mudah.

Catur, baik dimainkan dengan papan maupun aplikasi, menuntut pemain mempertimbangkan beberapa langkah ke depan, mengingat posisi buah, serta menyesuaikan strategi. Tinjauan sistematis dan metaanalisis terhadap permainan papan tradisional menemukan perbaikan pada sejumlah ukuran kognisi umum dalam studi yang ditelaah. Hasilnya bervariasi menurut jenis permainan dan kemampuan yang diukur.

Permainan bukan jaminan mencegah demensia

Bukti yang tersedia memberi alasan untuk menjadikan permainan sebagai kegiatan yang menantang sekaligus menghibur. Namun, temuan dari penelitian pada lansia atau orang dengan gangguan kognitif ringan tidak serta-merta menggambarkan dampak yang sama pada semua orang dewasa. Jumlah peserta, lama latihan, dan kemampuan yang dinilai juga berbeda-beda.

Karena itu, TTS, mahjong, Go, catur, maupun gim digital sebaiknya dipandang sebagai salah satu bentuk stimulasi kognitif, bukan cara pasti untuk menjaga otak dari penyakit. Pilih permainan yang disukai dan sesuai kemampuan agar kegiatan terasa berkelanjutan. Jika muncul kekhawatiran mengenai perubahan ingatan atau kemampuan berpikir, permainan tidak menggantikan konsultasi dan pemeriksaan medis.

Inforakyat