Sembilan dari sepuluh makalah yang mengkritik sistem klasifikasi NOVA untuk makanan ultra-olahan memiliki setidaknya satu penulis dengan keterkaitan finansial dengan industri makanan. Temuan yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health ini muncul saat sejumlah negara memperdebatkan cara mendefinisikan dan membatasi konsumsi produk tersebut.
Peneliti utama studi, Erica LaFata, ilmuwan di Oregon Research Institute, mengatakan pola keterkaitan itu terlihat mencolok di antara makalah yang ditelaah. Ia berharap publik turut memperhatikan asal-usul perdebatan mengenai makanan ultra-olahan.
Temuan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kritik terhadap NOVA keliru atau bahwa penulisnya melanggar aturan. Namun, menurut para peneliti, hubungan finansial dengan industri merupakan konteks penting ketika menilai argumen yang dapat memengaruhi kebijakan kesehatan masyarakat.
Perdebatan tentang klasifikasi NOVA
NOVA mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pengolahannya dalam empat kategori. Buah segar, misalnya, masuk kelompok pertama, sedangkan produk seperti nugget ayam dan Doritos ditempatkan dalam kelompok keempat, yakni makanan ultra-olahan.
Sistem ini menjadi rujukan dalam diskusi kebijakan untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan. Namun, puluhan akademisi dalam sejumlah makalah belakangan mengkritik metodologinya. Makalah lain membela produk yang masuk kategori tersebut dan menilai cakupan definisinya terlalu luas.
Keberatan terhadap NOVA beragam. Sebagian kritik menyoroti kesulitan mengelompokkan makanan seperti keju dan daging asap. Kritik lainnya mempertanyakan apakah tingkat pengolahan layak dijadikan dasar pengaturan, dengan alasan produk seperti yogurt rasa dan roti gandum utuh dapat tetap bermanfaat meski tergolong ultra-olahan.
Consumer Brands Association, kelompok industri makanan di Amerika Serikat, juga menilai definisi yang mencakup hampir 80 persen pasokan pangan nasional berisiko memilih produk yang dianggap baik dan buruk secara tidak tepat. Organisasi itu menyampaikan keberatan terhadap definisi makanan ultra-olahan yang diusulkan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, atau FDA.
Hubungan finansial tak selalu diungkap
LaFata dan rekan penulisnya menelusuri informasi publik untuk mengidentifikasi hubungan para penulis dengan industri. Mereka memeriksa profil LinkedIn, biografi daring, serta sumber lain yang tersedia. Hasilnya, lebih dari dua pertiga waktu, penulis yang memiliki keterkaitan dengan industri tidak mencantumkan hubungan tersebut dalam makalah yang mengkritik NOVA.
Meski demikian, LaFata mengingatkan bahwa temuan itu tidak otomatis berarti para penulis melanggar kebijakan pengungkapan jurnal. Kebijakan jurnal dapat memberi ruang bagi kontributor untuk menilai sendiri apakah hubungan industri di masa lalu perlu dinyatakan sebagai potensi konflik kepentingan.
Kondisi tersebut, kata LaFata, memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan aturan yang berlaku untuk menjamin transparansi. Lindsey Smith Taillie, profesor di University of North Carolina dan wakil direktur Program Penelitian Pangan Global di kampus itu, menilai keterkaitan pendanaan perlu dipertimbangkan saat publik menilai kritik terhadap NOVA.
“Pendanaan dari industri memengaruhi hasil,” kata Taillie.
Taillie juga mengatakan dominasi penulis yang memiliki hubungan dengan industri seharusnya membuat pembaca menurunkan bobot penilaian terhadap kritik tersebut. Pernyataan itu merupakan pandangan Taillie, bukan kesimpulan bahwa setiap makalah yang dikaji pasti dipengaruhi oleh kepentingan pendana.
Definisi menjadi kunci kebijakan pangan
Perdebatan ini berlangsung ketika kebijakan untuk membatasi makanan ultra-olahan menghadapi hambatan. Di Amerika Serikat, usulan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Robert F. Kennedy Jr. untuk membatasi konsumsinya dilaporkan tertahan di Gedung Putih. Para pejabat disebut khawatir definisi yang dipakai mencakup terlalu banyak pasokan pangan dan dapat mempermudah gugatan terhadap industri.
Di Amerika Latin, perdebatan serupa juga terjadi. Organisasi Kesehatan Pan Amerika menerima sistem NOVA, sementara kelompok industri makanan menentangnya. Perbedaan pandangan itu menunjukkan bahwa penentuan batas kategori bukan sekadar soal istilah, melainkan dapat menentukan arah regulasi.
Definisi yang jelas diperlukan sebelum pemerintah merancang intervensi, seperti mengurangi penggunaan produk tertentu dalam makanan sekolah atau mewajibkan peringatan pada label. “Anda harus tahu apa yang sedang Anda intervensi,” ujar Taillie.
Karena itu, temuan tentang keterkaitan penulis dengan industri menambah satu lapisan penting dalam perdebatan: pembaca perlu mengetahui bukan hanya apa argumen yang diajukan, tetapi juga konteks di baliknya. Transparansi dapat membantu publik dan pembuat kebijakan menimbang kritik secara lebih utuh, tanpa menutup ruang bagi perdebatan ilmiah tentang cara terbaik mengelompokkan makanan.