Skip to content

Rupiah Tembus Rp18.000, Pasar Cermati The Fed

Rupiah kembali melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (21/10). Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed, di tengah kewaspadaan terhadap arus modal keluar dan perkembangan ekonomi global.

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup turun 0,17 persen ke Rp18.022 per dolar AS. Pelemahan itu terjadi setelah mata uang Garuda sempat menguat sehari sebelumnya ke Rp17.992 per dolar AS.

Pergerakan rupiah pada hari yang sama tidak sepenuhnya sejalan dengan kurs referensi Bank Indonesia. Jisdor BI tercatat menguat 0,11 persen menjadi Rp17.986 per dolar AS.

Investor menimbang kebijakan BI dan risiko arus modal

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai pergerakan rupiah mencerminkan penyesuaian posisi pasar setelah BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen.

“Tekanan yang lebih dominan dari sikap hati-hati investor terhadap potensi arus keluar modal usai adanya usulan reklasifikasi MSCI,” ujar Yusuf.

Pertimbangan investor terhadap arus modal menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah. Sikap hati-hati di pasar dapat memengaruhi minat terhadap aset domestik, terutama ketika pelaku pasar juga menunggu kepastian kebijakan dari bank sentral utama dunia.

Di dalam negeri, keputusan BI mempertahankan suku bunga memberi konteks bagi penyesuaian posisi pasar yang disebut Yusuf. Namun, dinamika kurs tidak hanya ditentukan oleh keputusan suku bunga domestik. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar dan pergerakan modal global.

Pasar menanti pertemuan The Fed

Perhatian investor tertuju pada pertemuan The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya. Pelaku pasar berusaha memperkirakan arah kebijakan bank sentral AS, termasuk bagaimana keputusan suku bunga dapat mengubah prospek dolar dan mata uang negara lain.

Pada Rabu, dolar AS justru melemah di pasar internasional. Indeks dolar turun 0,14 persen ke level 101,65, setelah pelaku pasar mengevaluasi kembali risiko inflasi yang dapat dipicu kenaikan harga minyak.

Meski demikian, pelemahan indeks dolar tidak otomatis membuat rupiah menguat. Pada awal perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, rupiah di pasar spot tercatat Rp18.034 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB, melemah 12 poin atau 0,07 persen. Perbedaan waktu pengamatan serta faktor domestik dan global dapat membuat pergerakan rupiah berbeda dari indeks dolar.

Data tersebut menunjukkan rupiah masih berada di bawah tekanan pada awal sesi, meskipun dolar melemah terhadap sejumlah mata uang di pasar global. Investor pun belum hanya berfokus pada pergerakan dolar harian, tetapi juga menunggu sinyal yang lebih jelas dari The Fed.

Pergerakan mata uang utama beragam

Sejumlah mata uang utama bergerak menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia naik 0,41 persen menjadi US$0,7031 setelah Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia, Andrew Hauser, menyampaikan bahwa prospek inflasi terlihat jauh lebih buruk.

Poundsterling menguat 0,16 persen ke US$1,34. Penguatan ini berlangsung setelah data terbaru memperlihatkan inflasi Inggris meningkat lebih tinggi daripada perkiraan, sehingga pasar memperkirakan kemungkinan Bank of England menaikkan suku bunga pada November. Keputusan bank sentral tetap akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dan penilaiannya.

Euro naik tipis 0,01 persen ke US$1,1237. Yen Jepang juga menguat 0,02 persen ke level 158,12 per dolar AS, setelah Deputi Gubernur Bank of Japan, Ryozo Himino, menyebut inflasi inti Jepang telah mendekati target 2 persen. Ia juga menyoroti kondisi keuangan Jepang yang masih longgar, yang memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan kenaikan biaya pinjaman.

Perbedaan arah mata uang tersebut menegaskan bahwa pasar menilai perkembangan ekonomi dan sinyal bank sentral masing-masing negara secara bersamaan. Untuk rupiah, perhatian investor dalam perdagangan berikutnya akan tertuju pada keputusan The Fed, perkembangan arus modal, serta respons pasar terhadap kebijakan moneter domestik.

Inforakyat