Peneliti Fakultas Farmasi Universitas Airlangga mengembangkan pinostrobin pentanoat, senyawa yang berpotensi menjadi kandidat terapi kanker payudara lebih selektif. Dalam pengujian laboratorium, senyawa ini menghambat pertumbuhan sel kanker dan menunjukkan tingkat selektivitas tinggi terhadap sel kanker dibandingkan sel normal.
Temuan tersebut memberi arah baru bagi riset pengobatan kanker payudara, terutama untuk mencari terapi yang efektif tanpa menimbulkan dampak luas pada jaringan sehat. Namun, hasil penelitian ini masih berasal dari simulasi komputer dan pengujian sel di laboratorium. Pinostrobin pentanoat belum dapat dianggap sebagai obat yang terbukti aman dan efektif untuk pasien.
Menyasar reseptor estrogen pada sel kanker
Pinostrobin pentanoat, atau P5, merupakan hasil modifikasi struktur pinostrobin, senyawa alami turunan flavonoid yang sebelumnya diketahui memiliki efek antikanker. Modifikasi itu dirancang untuk meningkatkan kemampuan senyawa dalam melawan kanker sekaligus memperhatikan profil keamanannya.
Riset ini berfokus pada kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen alfa (ERα). Menurut bahan penelitian Universitas Airlangga, sekitar 70–80 persen kasus kanker payudara tergolong ERα positif. Pada jenis ini, hormon estrogen berperan mendorong pertumbuhan sel kanker.
Pengobatan konvensional, termasuk kemoterapi dengan doksorubisin, dapat menekan kanker. Namun, terapi tersebut juga berisiko menimbulkan efek samping sistemik karena dapat merusak sel tubuh yang sehat. Karena itu, pengembangan senyawa yang lebih selektif menjadi salah satu fokus penelitian.
Para peneliti lebih dulu menggunakan simulasi komputer untuk memperkirakan interaksi P5 dengan reseptor ERα. Metode yang dipakai mencakup penambatan molekuler atau molecular docking serta simulasi dinamika molekuler. Pendekatan ini membantu memperkirakan seberapa kuat dan stabil senyawa berikatan dengan targetnya.
Hasil uji laboratorium menunjukkan selektivitas
Dalam simulasi tersebut, P5 menunjukkan ikatan yang kuat dan stabil pada reseptor ERα. Energi ikatannya juga dilaporkan lebih baik dibandingkan pinostrobin sebagai senyawa induk. Hasil komputasi kemudian dilanjutkan dengan pengujian langsung terhadap sel kanker payudara T47D dan sel Vero sebagai pembanding sel normal.
Uji in vitro menunjukkan P5 lebih efektif menghambat pertumbuhan sel kanker daripada senyawa induknya. Peneliti juga melaporkan Indeks Selektivitas lebih dari 46,8. Angka ini menunjukkan bahwa dalam pengujian tersebut, senyawa memiliki efek lebih terarah pada sel kanker dibandingkan sel normal.
Hasil itu menjadi salah satu temuan penting penelitian, tetapi perlu dibaca sesuai tahap pengujiannya. Pengamatan terhadap sel di laboratorium belum menggambarkan sepenuhnya bagaimana senyawa akan bekerja di dalam tubuh manusia. Efek, keamanan, dan dosisnya pada pasien masih memerlukan pembuktian melalui tahapan riset berikutnya.
Studi ini dimuat dalam jurnal Research in Pharmaceutical Sciences pada 2026 dengan judul “Pinostrobin pentanoate as a selective estrogen receptor-α antagonist in breast cancer: integrated in silico and in vitro evaluation”. Penelitian tersebut ditulis Tri Widiandani bersama sejumlah peneliti lainnya.
Kombinasi dengan kemoterapi masih perlu diteliti
Peneliti juga menguji kombinasi P5 dengan doksorubisin. Dalam pengujian laboratorium, keduanya menunjukkan efek sinergis, yakni saling memperkuat. Temuan ini membuka kemungkinan untuk meneliti lebih jauh apakah kombinasi tersebut dapat mendukung pengobatan yang tetap efektif dengan kebutuhan dosis kemoterapi lebih rendah.
Kemungkinan itu belum berarti dosis doksorubisin dapat langsung dikurangi dalam praktik pengobatan. Pengujian yang dilaporkan baru dilakukan pada sel, sehingga manfaat dan risikonya pada pasien belum diketahui. Penelitian lanjutan diperlukan sebelum kombinasi tersebut dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari terapi klinis.
Riset pinostrobin pentanoat menambah bukti awal mengenai pendekatan terapi kanker payudara yang menargetkan reseptor tertentu. Tahap berikutnya adalah memastikan temuan laboratorium dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang aman bagi pasien. Sampai ada bukti klinis, pasien tetap perlu mengikuti saran tenaga medis dan tidak mengganti terapi yang dijalani dengan senyawa yang masih dalam penelitian.