Pasar keuangan Indonesia bergerak berbeda pada Selasa, 29 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di tengah tekanan pasar global, sedangkan rupiah berbalik menguat tipis setelah sempat menyentuh level terlemah sepanjang perdagangan. Investor masih mencermati imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang tinggi dan arah kebijakan moneter Federal Reserve (Fed).
Di Wall Street, tiga indeks utama ditutup di zona merah. Kenaikan yield US Treasury—yang menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun—menjadi salah satu tekanan bagi saham. Situasi ini turut membayangi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang, ketika dolar AS dan suku bunga global masih menjadi perhatian.
IHSG melemah setelah bergerak volatil
IHSG turun 26,16 poin atau 0,43 persen ke level 6.121,70. Pergerakan indeks berlangsung bergejolak dengan rentang sekitar 137 poin. Tekanan sudah tampak sejak awal perdagangan, ketika IHSG sempat merosot ke 6.013 sebelum berbalik naik dan mencapai puncak harian di 6.150.
Upaya pemulihan itu belum cukup untuk membawa indeks bertahan di zona hijau hingga penutupan. Mayoritas saham berakhir melemah: sebanyak 373 saham turun, 303 saham naik, dan 118 saham tidak berubah. Nilai transaksi mencapai Rp13,24 triliun dengan volume 383 juta lot.
Sektor konsumer non-primer, properti, dan barang baku mencatat koreksi paling dalam. Saham GOTO, BBCA, dan BREN menjadi pemberat utama IHSG. Pergerakan pasar juga bertepatan dengan penerapan kebijakan baru Bursa Efek Indonesia sejak Senin, 28 September 2026, yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan tunai. Kebijakan itu disertai penyesuaian batas auto rejection untuk saham berharga rendah.
Yield Treasury tinggi menekan Wall Street
Tekanan dari luar negeri terlihat pada perdagangan saham Amerika Serikat. Dow Jones Industrial Average turun 131,59 poin atau 0,26 persen ke 51.349,92. S&P 500 melemah 0,16 persen menjadi 7.670,84, sementara Nasdaq Composite turun 0,09 persen ke 26.797,54.
Ketiga indeks memang ditutup di atas titik terendah intraday, tetapi masing-masing kembali mencatat pelemahan untuk dua sesi berturut-turut. Saham perbankan, termasuk JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Bank of America, ikut terkoreksi. ETF XLF yang melacak sektor keuangan juga berakhir melemah.
Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun sempat melampaui 5,6 persen, level tertinggi sejak Juni 2002. Adapun yield tenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar, menembus 5,29 persen pada titik tertingginya. Kenaikan yield membuat kondisi pembiayaan global tetap mahal dan menambah tekanan bagi saham.
Pasar juga menghadapi ketidakpastian mengenai inflasi dan risiko fiskal. Kombinasi imbal hasil obligasi yang tinggi, harga energi, dan kebijakan moneter global yang ketat membuat pelaku pasar berhati-hati. Judul pemberitaan menyoroti pergerakan harga minyak dan sikap Fed, tetapi data yang tersedia dalam laporan ini tidak merinci dua kabar dari AS yang menjadi perhatian pasar.
Rupiah pulih, tetapi tekanan belum hilang
Berbeda dari IHSG, rupiah menguat tipis 0,03 persen ke Rp17.960 per dolar AS pada penutupan. Mata uang Garuda sempat dibuka melemah ke Rp17.970 per dolar AS dan tertekan hingga dolar menembus Rp18.010. Menjelang akhir perdagangan, rupiah pulih sekitar 40 poin dari titik terlemahnya.
Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY menguat 0,14 persen ke 101,338. Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari sentimen global dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Penguatan dolar dipengaruhi kekhawatiran atas inflasi global dan risiko fiskal, sementara kebutuhan valas importir meningkat menjelang akhir kuartal III-2026.
Meski demikian, pelemahan rupiah secara quarter-to-date masih terbatas 0,67 persen. Cadangan devisa Indonesia yang naik menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 turut menjadi penopang. BI menyatakan akan menjaga stabilitas melalui intervensi di pasar NDF, spot, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Investor mencermati arah pasar berikutnya
Di pasar obligasi domestik, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke kisaran 7,21 persen. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan dari pasar global tidak hanya terasa pada saham dan nilai tukar, tetapi juga pada surat utang.
Perbedaan arah IHSG dan rupiah pada Selasa memperlihatkan bahwa respons tiap instrumen tidak selalu sama. Namun, tingginya yield AS, penguatan dolar, dan suku bunga global yang ketat masih berpotensi menjaga volatilitas pasar negara berkembang. Investor akan mencermati perkembangan kebijakan moneter dan sentimen global berikutnya, sementara stabilitas rupiah dan pasar obligasi tetap menjadi perhatian.