Skip to content

Dari Ajudan Soeharto, Try Sutrisno Jadi Wapres

Try Sutrisno resmi menjadi Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia pada 1993, setelah perjalanan panjang dari perwira lapangan hingga orang kepercayaan Presiden Soeharto. Sebelum menduduki kursi orang nomor dua di Indonesia, ia pernah bertugas selama empat tahun sebagai ajudan Soeharto.

Karier Try bermula di kesatuan Zeni pada 1960. Ia menjalani penugasan di sejumlah daerah, antara lain Palembang, Jakarta, Bandung, dan beberapa kota di Jawa Timur. Selama bertahun-tahun, pekerjaannya lebih banyak berkaitan dengan tugas lapangan. Penunjukan sebagai ajudan presiden pada 1974 menjadi titik balik yang mengarahkannya ke lingkaran elite militer dan politik.

Penugasan sebagai ajudan mengubah perjalanan karier

Try mengaku tidak menyangka mendapat tugas mendampingi Presiden Soeharto. Dalam buku autobiografi Soeharto, Pak Harto: The Untold Stories (2011), ia menceritakan bahwa dirinya saat itu telah lama berkarier sebagai perwira lapangan. Penugasan baru tersebut membawa perubahan besar dalam perjalanan profesionalnya.

Selama empat tahun menjadi ajudan, Try berada dekat dengan kepala negara. Setelah masa tugas itu berakhir, jenjang kariernya terus menanjak. Ia dipercaya menjadi Kepala Staf Kodam Udayana, lalu menjabat Panglima Kodam Sriwijaya pada 1979 dan Panglima Kodam Jakarta Raya pada 1982.

Try kemudian masuk ke jajaran pimpinan Angkatan Darat. Ia sempat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat sebelum dipercaya menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Latar belakangnya dari korps Zeni membuat pengangkatannya sebagai pimpinan tertinggi Angkatan Darat mendapat perhatian.

Pengamat politik Salim Said, dalam buku Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013), menilai penunjukan Try sebagai KSAD menunjukkan besarnya kepercayaan Soeharto. Menurut Salim, keputusan itu juga dapat dibaca sebagai bentuk dukungan loyalitas dari Angkatan Darat kepada presiden.

Jalur menuju kursi Wakil Presiden

Pada 1988, Try diangkat menjadi Panglima ABRI. Posisi tersebut memunculkan desas-desus bahwa ia akan dipilih sebagai wakil presiden. Namun, kabar itu belum terwujud pada tahun tersebut. Soeharto justru memilih Sudharmono untuk mendampinginya.

Lima tahun kemudian, Try akhirnya dipercaya menduduki jabatan Wakil Presiden. Pada 1993, ia resmi menjadi Wapres ke-6 RI. Dalam proses pemilihan itu, namanya mengungguli sejumlah figur yang dikenal luas, termasuk Menteri Riset B.J. Habibie, yang dekat dengan kelompok Islam.

Salim Said mengaitkan pilihan Soeharto dengan kedekatan yang telah terbangun sejak Try menjadi ajudan. Selain loyalitas, Try dinilai hidup sederhana, tidak memiliki beban masa lalu, dan berpenampilan menarik. Faktor-faktor itu turut membentuk citranya di mata presiden dan lingkungan politik saat itu.

Dipandang sebagai penjaga kesinambungan kepemimpinan

Sejarawan M.C. Ricklefs, dalam Sejarah Indonesia Modern (2004), juga menyoroti peran lingkaran dekat Soeharto dalam pengangkatan Try. Menurut Ricklefs, sejumlah orang di sekitar presiden memandang Try sebagai figur yang berpotensi menjadi penerus apabila Soeharto wafat.

Pertimbangan itu muncul ketika usia Soeharto dinilai sudah lanjut. Try dianggap memiliki kapasitas dan legitimasi untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan nasional. Dengan demikian, pengangkatannya bukan hanya berkaitan dengan perjalanan karier di militer, tetapi juga pertimbangan mengenai stabilitas dan arah pemerintahan.

Selama menjabat wakil presiden, Try banyak menangani pengawasan pembangunan nasional. Ia menjalankan tugas tersebut hingga 1998, sebelum digantikan B.J. Habibie. Perjalanan dari perwira Zeni, ajudan presiden, hingga wakil presiden memperlihatkan bagaimana penugasan yang semula tak terduga menjadi awal dari kenaikan karier yang panjang.

Kisah Try Sutrisno juga menjadi potret penting hubungan antara kedekatan personal, kepercayaan politik, dan jenjang karier pada masa pemerintahan Soeharto. Pengangkatan pada 1993 menutup satu babak perjalanan militernya sekaligus menempatkannya di pusat pemerintahan pada periode yang menentukan.

Inforakyat