Samsung Galaxy Z Fold 8 tampil dengan desain yang berbeda dari pendahulunya: bodinya lebih pendek dan lebar, menyerupai paspor. Setelah digunakan selama sebulan, perubahan bentuk itu terasa bukan sekadar urusan tampilan. Layar cover lebih nyaman untuk berbagai aktivitas, sementara layar utama menawarkan ruang kerja dan hiburan dalam format tablet mini.
Perangkat ini berbobot 201 gram. Samsung memasarkan Galaxy Z Fold 8 di Indonesia dengan harga mulai Rp28.499.000 hingga Rp40.499.000, bergantung pada konfigurasi memori. Namun, ada sejumlah kompromi yang patut dipertimbangkan, termasuk absennya dukungan S Pen, Flex Mode, dan kamera telephoto khusus.
Desain Galaxy Z Fold 8 yang lebih lebar
Samsung meninggalkan bentuk memanjang yang selama ini menjadi ciri khas seri Fold. Saat dilipat, dimensinya 123,9 x 81,9 x 9,7 milimeter. Ketika dibuka, ketebalannya menjadi 4,5 milimeter. Proporsi baru ini membuat perangkat terasa lebih ringkas secara vertikal saat digenggam.
Jempol lebih mudah menjangkau bagian atas layar, sedangkan bodi yang lebar memberi ruang lebih lega untuk mengetik dengan dua jempol. Membalas pesan, membaca email, menjelajahi media sosial, hingga membuka situs berita dapat dilakukan tanpa harus buru-buru membuka layar utama. Perubahan itu membuat layar cover terasa lebih berguna untuk aktivitas harian.
Meski demikian, bentuk lebar bukan berarti cocok untuk semua tangan. Pengguna dengan telapak tangan kecil mungkin perlu mengubah posisi genggaman untuk menjangkau sisi layar yang berlawanan. Desainnya juga membutuhkan penyesuaian bagi mereka yang terbiasa dengan ponsel berbentuk panjang.
Saat dibuka, Fold 8 memberi sensasi seperti membuka buku kecil yang berubah menjadi tablet mini. Struktur layar lipatnya diperkuat material berbasis titanium. Perangkat ini mengantongi sertifikasi IP48 untuk perlindungan terhadap air dan benda padat berukuran tertentu, tetapi belum memiliki perlindungan debu setara IP68.
Layar cover untuk aktivitas singkat, layar utama untuk membaca
Layar cover 5,5 inci dengan rasio 16:10 menjadi bagian penting dari desain baru. Ukurannya memang lebih kecil dibandingkan layar banyak ponsel pintar, tetapi proporsi yang lebih lebar membuatnya terasa cukup lega untuk mengetik, membaca email, dan mencari informasi lewat peramban.
Dalam ulasan penggunaan selama sebulan, layar luar juga digunakan untuk membaca buku digital melalui Google Play Books dan Gramedia Digital. Proporsi halaman terasa seimbang dan teks tetap mudah dibaca tanpa perlu terus-menerus memperbesar ukuran huruf. Saat bepergian dengan transportasi umum, perangkat bisa dipakai membaca seperti ponsel biasa tanpa perlu dibuka menjadi tablet.
Layar utama Dynamic AMOLED 2X berukuran 7,6 inci dengan rasio 4:3 menyediakan ruang lebih luas. Dalam posisi portrait, halaman buku tampil lebih besar. Sementara itu, posisi landscape dapat menampilkan dua halaman berdampingan pada aplikasi dan buku yang mendukungnya, sehingga pengalaman membaca terasa menyerupai buku fisik.
Ruang ekstra itu juga berguna untuk memeriksa PDF, presentasi, dan berkas pekerjaan. Pengguna dapat membuka peramban di satu sisi sambil mencatat informasi di sisi lain, dengan dukungan tampilan terbagi hingga tiga aplikasi. Kedua layar mendukung refresh rate adaptif hingga 120Hz dan kecerahan puncak 3.000 nits. Lapisan antireflektif membantu mengurangi pantulan cahaya di luar ruangan.
Rasio layar utama 4:3 tetap membawa konsekuensi saat menonton film widescreen: bilah hitam terlihat di bagian atas dan bawah. Bekas lipatan di tengah layar juga masih dapat terlihat dari sudut tertentu, meski dalam pengujian tidak terlalu mengganggu aktivitas membaca, membuka dokumen, maupun menonton video.
Performa kencang, tetapi ada fitur yang hilang
Galaxy Z Fold 8 menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy dan RAM 12 GB pada konfigurasi yang diuji. Aplikasi serta permainan berat dapat berjalan dengan respons mulus. Dalam pengujian Geekbench 6, ponsel ini mencatat skor sekitar 3.592 untuk single-core dan 10.765 untuk multi-core. Skor AnTuTu yang diperoleh mencapai 3.127.273 poin.
Permainan Delta Force dapat dijalankan tanpa kendala berarti, meski bodi perangkat terasa hangat. Angka pengujian itu memberi gambaran mengenai kemampuan perangkat, tetapi daya tarik utamanya tetap pada perpaduan layar cover untuk penggunaan cepat dan layar besar untuk aktivitas yang membutuhkan ruang lebih luas.
Kompromi lainnya ada pada fitur. Galaxy Z Fold 8 tidak mendukung Flex Mode seperti model Fold sebelumnya, sehingga perangkat tak lagi bisa dimanfaatkan dengan cara yang sama dalam posisi setengah terlipat sebagai penyangga layar. Pengguna masih dapat memakai tent mode, yakni menempatkan kedua sisi perangkat sebagai penopang saat menonton video.
Kamera telephoto khusus dan dukungan S Pen juga tidak tersedia. Karena itu, desain yang lebih nyaman dan layar utama yang lapang perlu ditimbang dengan fitur yang mungkin dibutuhkan pengguna. Bagi yang kerap membaca, bekerja dengan dokumen, atau melakukan multitasking, format baru Fold 8 menawarkan pengalaman berbeda. Sebelum memilih, calon pembeli sebaiknya memastikan bahwa kompromi tersebut sepadan dengan harga perangkat.