Skip to content

Imunisasi Polio Tetes: Efek Samping dan Risikonya

Imunisasi polio tetes penting untuk melindungi anak dari penyakit polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Vaksin oral polio vaccine (OPV) umumnya aman dan efektif, meski orang tua tetap perlu mengetahui kemungkinan reaksi setelah pemberian serta kapan harus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

OPV diberikan melalui mulut dan mengandung virus polio yang telah dilemahkan. Vaksin ini membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus sekaligus mendukung upaya mencegah penyebaran polio. Di samping vaksin tetes, imunisasi polio juga tersedia dalam bentuk suntikan.

Efek samping vaksin polio tetes umumnya jarang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin polio oral aman dan efektif untuk mencegah polio. OPV pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik dan tidak memiliki efek samping ringan yang lazim muncul. Artinya, keluhan ringan bukan reaksi yang umum dilaporkan setelah anak menerima vaksin ini.

Salah satu keluhan yang mungkin terjadi adalah diare ringan tanpa demam. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan kondisi tersebut dapat muncul setelah imunisasi polio tetes, tetapi kejadiannya sangat jarang.

Orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa diare yang muncul setelah imunisasi pasti disebabkan oleh vaksin. Penyebab keluhan perlu dinilai dengan mempertimbangkan kondisi anak dan informasi medis yang tersedia. Jika diare menetap, bertambah parah, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, konsultasikan kondisi anak kepada tenaga kesehatan.

Risiko serius OPV sangat kecil

Komplikasi serius yang diketahui berkaitan dengan vaksin polio oral adalah vaccine-associated paralytic poliomyelitis (VAPP), yakni polio paralitik yang berhubungan dengan pemberian OPV. Risiko komplikasi ini sangat rendah.

Menurut WHO, VAPP diperkirakan terjadi pada sekitar satu kasus dalam setiap 2,7 juta dosis OPV. Angka tersebut menunjukkan bahwa komplikasi ini sangat jarang, tetapi tetap menjadi bagian dari informasi keamanan yang perlu diketahui orang tua.

Vaksin polio tetes perlu dibedakan dari vaksin polio suntik atau inactivated poliovirus vaccine (IPV). OPV menggunakan virus polio yang dilemahkan, sedangkan IPV menggunakan virus yang telah diinaktivasi atau dimatikan. Karena kandungan dan cara pemberiannya berbeda, informasi mengenai keamanan serta risiko kedua jenis vaksin tidak bisa disamakan begitu saja.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa imunisasi polio, baik melalui tetes maupun suntikan, pada umumnya aman. Panduan Kemenkes juga menyebut imunisasi polio umumnya tidak menyebabkan demam. Jenis vaksin dan jadwal pemberian sebaiknya mengikuti anjuran petugas kesehatan, dengan mempertimbangkan program imunisasi serta kondisi anak.

Hal yang perlu dilakukan orang tua sebelum dan sesudah imunisasi

Sebelum anak menerima vaksin, sampaikan kepada petugas kesehatan jika ia memiliki riwayat alergi, sedang sakit, atau mempunyai kondisi medis tertentu. Informasi tersebut membantu petugas menilai keadaan anak dan menentukan langkah yang sesuai. Orang tua juga dapat bertanya langsung apabila masih memiliki kekhawatiran tentang jenis vaksin atau jadwal imunisasi.

Sesudah imunisasi, orang tua dapat memperhatikan kondisi anak dan mengikuti petunjuk tenaga kesehatan. Bila anak memuntahkan vaksin polio tetes, jangan mengulang pemberian dosis atas keputusan sendiri. Tanyakan kepada petugas imunisasi mengenai langkah selanjutnya.

Segera cari pertolongan medis jika anak mengalami keluhan berat, menetap, memburuk, atau menunjukkan gejala yang tidak biasa. Tenaga kesehatan dapat menilai penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang tepat. Setiap reaksi juga perlu dilihat sesuai kondisi anak, bukan hanya berdasarkan waktu kemunculannya setelah vaksinasi.

Memahami kemungkinan efek samping membantu orang tua mengambil keputusan dengan lebih tenang, tanpa mengabaikan gejala yang perlu diperiksa. Karena polio dapat menyebabkan kelumpuhan, imunisasi tetap menjadi langkah penting untuk melindungi anak. Jika ada pertanyaan tentang keamanan vaksin atau kondisi khusus anak, konsultasi dengan dokter maupun petugas imunisasi dapat membantu keluarga mengikuti perlindungan yang dianjurkan.

Inforakyat