Wu, turis Singapura berusia 54 tahun, menghabiskan enam jam mencari Ruiping Hotel di Taiyuan, China. Setelah menemukan penginapan yang telah dipesannya untuk 28 September hingga 2 Oktober, ia justru diberi tahu bahwa hotel itu hanya menerima warga negara China.
Peristiwa tersebut membuat Wu harus mencari tempat bermalam lain. Kasus ini kembali memperlihatkan risiko yang dihadapi wisatawan asing ketika informasi penerimaan tamu di hotel tidak jelas, meski pemesanan sudah dilakukan melalui platform daring.
Pencarian berjam-jam berakhir dengan penolakan
Menurut laporan detikTravel yang mengutip VN Express, informasi di platform pemesanan tidak menyertakan nomor telepon maupun alamat lengkap Ruiping Hotel. Wu pun kesulitan menemukan lokasi properti itu dan berkeliling di kawasan tersebut selama sekitar enam jam.
Setelah pencarian itu tak membuahkan hasil, ia memesan kamar di penginapan lain yang berada di dekatnya. Tarifnya 58 dolar Singapura per malam, atau sekitar Rp 814.000. Wu menginap di sana karena belum berhasil menjangkau hotel yang telah ia pesan.
Pagi berikutnya, ia mencoba lagi dengan bantuan aplikasi navigasi lain. Penggunaan aplikasi berbeda diperlukan karena layanan navigasi yang biasa dipakai di luar China tidak selalu dapat diandalkan di negara tersebut. Kali ini Wu berhasil menemukan Ruiping Hotel.
Namun, persoalan belum selesai. Staf hotel menyampaikan bahwa properti itu hanya menerima warga China. Wu sempat mempertanyakan penolakan tersebut karena keterangan pada platform pemesanan tidak menyebut larangan bagi tamu asing. Pihak hotel kemudian mengembalikan uang pemesanannya.
Platform tersebut menyatakan menyesalkan kejadian itu kepada Shin Min Daily News. Namun, pihaknya tidak menguraikan lebih jauh kasus Wu dengan alasan menjaga privasi pelanggan.
Aturan pencatatan tamu asing jadi tantangan
Penolakan terhadap wisatawan asing di hotel China bukan kali pertama dilaporkan. Sejumlah pengunjung asing mengeluhkan pemesanan mereka tidak diterima saat tiba di lokasi, terutama jika mereka tidak memiliki kartu izin tinggal tetap di China.
Channel News Asia melaporkan, aturan administrasi keluar-masuk China mengharuskan hotel mendaftarkan tamu asing dan menyampaikan data mereka kepada polisi setempat dalam waktu 24 jam. Kewajiban ini disebut menjadi salah satu faktor yang menyulitkan sebagian penginapan, terutama di kota-kota kecil, karena keterbatasan teknologi dan jumlah staf.
Ketentuan administrasi tersebut tidak menghapus dampak langsung bagi pelancong yang sudah tiba dengan membawa konfirmasi pemesanan. Dalam kasus Wu, ketiadaan alamat lengkap dan nomor kontak membuat proses mencari hotel lebih lama. Setelah sampai, ia baru mengetahui bahwa kewarganegaraannya menjadi alasan penolakan.
Situasi seperti ini juga dapat membuat wisatawan harus menanggung biaya penginapan lain sebelum persoalan pemesanan diselesaikan. Wu membayar kamar pengganti untuk beristirahat, sementara pengembalian dana dari Ruiping Hotel baru diberikan setelah ia menyampaikan keberatan kepada staf.
Kasus serupa pernah dialami turis lain
detikTravel juga mencatat pengalaman Alice Jiao, wisatawan yang memesan kamar di Nanjing Rest Yizhi Hotel. Sebelum datang, ia telah memastikan melalui aplikasi bahwa hotel tersebut menerima tamu asing. Meski begitu, saat tiba pada Februari, ia tetap ditolak.
Alasan yang diberikan staf hotel kala itu adalah bahwa mereka hanya menerima warga asing yang memiliki kartu residensi permanen China, yang disebut sebagai kartu bintang lima. Pengalaman Jiao dan Wu memperlihatkan bahwa keterangan di aplikasi pemesanan belum tentu sejalan dengan keputusan hotel saat tamu tiba.
Bagi wisatawan yang hendak menginap di China, kejadian tersebut menjadi alasan untuk memastikan kembali penerimaan tamu asing secara langsung kepada properti sebelum perjalanan. Informasi alamat dan kontak hotel juga perlu dipastikan agar pencarian tidak bergantung pada keterangan di platform saja.
Dalam kasus Wu, platform belum membuka rincian penanganan pemesanan tersebut. Hotel telah mengembalikan dana, tetapi laporan yang tersedia tidak menyebutkan langkah lanjutan dari pihak penginapan maupun platform untuk mencegah kejadian serupa.