Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi meminta kesehatan dan keselamatan petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendapat perhatian serius. Ia mengusulkan pemeriksaan medis menyeluruh, termasuk rontgen paru-paru, bagi petugas yang terpapar asap saat bekerja di lapangan.
Permintaan itu disampaikan Kristomei dalam rapat koordinasi penanganan darurat karhutla di Palembang, Sumatera Selatan. Menurut dia, pemeriksaan berkala merupakan salah satu bentuk perlindungan bagi petugas yang berada di garis depan pemadaman.
Pemeriksaan paru-paru untuk petugas karhutla
Paparan asap selama proses pemadaman menjadi perhatian BNPB. Kristomei menilai pemeriksaan kesehatan perlu diberikan kepada anggota yang bertugas di lokasi, dengan rontgen paru-paru sebagai salah satu pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan.
“Kalau perlu, rontgen paru-parunya itu. Kasihan juga dia,” kata Kristomei dalam rapat tersebut. Ia menekankan bahwa perlindungan petugas bukan hanya soal dukungan ketika operasi berlangsung, tetapi juga mencakup perhatian terhadap kondisi kesehatan mereka.
BNPB juga meminta kesejahteraan dan keselamatan petugas diperhatikan. Tuntutan itu muncul di tengah tingginya paparan asap yang dihadapi personel selama berupaya memadamkan kebakaran.
Posko operasi dibagi berdasarkan wilayah hotspot
Untuk memperkuat penanganan di lapangan, Kristomei mendorong pembentukan posko-posko operasi kolaboratif. Posko tersebut diharapkan dibagi berdasarkan klaster wilayah titik panas atau hotspot, sehingga penugasan dan dukungan dapat disesuaikan dengan lokasi operasi.
Setiap posko, kata dia, perlu memiliki penanggung jawab wilayah yang jelas. Posko juga harus dilengkapi peta pembagian tugas serta kepastian mengenai jumlah personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dikerahkan.
Kejelasan tersebut penting agar pelaksanaan operasi dapat dipantau dan dukungan yang diberikan sesuai kebutuhan di lapangan. Jumlah personel yang tercatat dalam laporan, menurut Kristomei, harus sama dengan jumlah petugas yang benar-benar bertugas.
Ia menegaskan BNPB tetap mendukung operasi, tetapi akuntabilitas penggunaan dukungan harus dijaga. “Kalau memang 100, dukung 100. Orang itu harus 100. Jangan dukung 100, orangnya 10,” ujarnya. Jika jumlah personel kurang, penambahan perlu dilakukan sesuai kebutuhan.
Data kesehatan dan korban terdampak karhutla
Data Kementerian Kesehatan dan BNPB hingga awal Oktober menunjukkan adanya ratusan keluhan kesehatan yang dikaitkan dengan kabut asap karhutla. Dalam bahan yang disampaikan, tercatat 324 orang mengalami luka berat, 23 orang luka ringan, dan empat orang meninggal dunia.
Sejumlah korban meninggal yang disebut dalam laporan antara lain Hardiansyah (41), pengemudi ojek online di Palembang; Lisna, guru sekolah dasar di Banjarmasin; serta Fikri alias Kelik (51), warga Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir. Fikri meninggal saat berupaya memadamkan api karhutla.
Laporan itu juga mencatat empat korban meninggal dalam kejadian karhutla di Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tepatnya di Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Kejadian tersebut dilaporkan berlangsung pada Kamis (16/10).
Korban yang meninggal di lokasi adalah Sefril dan Wisnu, relawan dari karyawan hotel setempat, serta Sukaris, petugas TNBTS. Hendra Roni, petugas TNBTS lainnya, meninggal di RSUD Tongas. Munawi, petugas TNBTS, dan Suraji, relawan dari karyawan hotel, mengalami luka bakar serius dan dirujuk ke RSUD dr Soetomo.
Perlindungan petugas perlu masuk dalam operasi
Rangkaian data tersebut menegaskan besarnya risiko yang dihadapi petugas maupun warga dalam situasi karhutla. Karena itu, BNPB mendorong agar perencanaan operasi berjalan seiring dengan perlindungan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan personel.
Pembentukan posko dengan pembagian tugas dan data personel yang akurat menjadi bagian dari upaya itu. Pemeriksaan medis berkala, termasuk pemeriksaan paru-paru bagi petugas yang terpapar asap, juga diharapkan dapat menjadi perhatian dalam penanganan karhutla berikutnya.